Senin, 29 September 2014

Aku Ingin Selalu Menulis meski tidak selalu dengan Pena Bag I

Kujejaki kaki ini di bagian bumi sebelah barat dari kotaku kuningan, aku berhijrah dengan satu niat yang pada kenyataannya menjadi bercabang dan terbiaskan, semoga Alloh mengampuniku.
Engkau mungkin tahu niat itu, niat seorang pemuda tanggung yang diberikan inayahNya dengan berpikir tajam supaya menuntut ilmu. Ya, ‘menuntut ilmu. Dan memang tidak aku pungkiri atas nukilan firman tentang pengangkatan derajat seseorang yang memiliki uluum (ilmu). Dan juga teringat sebuah wejangan :
“ Pendidikan adalah mata rantai terpenting hidup”.
Alloh memang maha luas, Dia memudahkanku jalan hanya dalam seumur jagung semenjak ku tapaki ‘lagi’ kota hujan ini. Jika mengingat kilas balik saat kucium punggung tangan bapak di bibir pintu rumah, dan seperti kebanyakan seorang anak yang akan merantau  dengan mengatakan “doakan saya”  ada suatu kesan yang sulit ditumpahkan dalam bentuk apapun.
September itu, 2011.  Diawalai kuliah perdanaku dengan meng’update’ status akun ku “back to school” dan dengan semena-mena ingin rasanya mengumbar ke khalayak publik atau setidaknya kepada orang yang mengeenalku bahwa aku “kini seorang mahasiswa”. Naif bukan ?
Tidak semua yang ingin aku tulis tertumpah semua,aku pernah punya teori atas syair :
Al-ilmu Shoydun  # Walkitaabatu Qoyduha.
Qhoyyid Shuyuudaka  # Bihablil mushbali.
........
Ilmu adalah buruan # sedangkan tlisan ialah laso/talinya.
Maka ikatlah buruanmu # dengan ikatan yang kuat.
Yaitu :
Aku ingin selalu menulis # meski tidak selalu dengan tinta/mangsi.
            Bahkan terkadang pun sulit mengejawantahkan pikiran sendiri begitupun kalbu, ada kiranya sebuah nafsu tergilaskan oleh beningnya kalbu serta kilaunya jiwa, pun tak jarang nafsulah yang melumat segalanya.
Adapun hal-hal yang selalu melecutkan asa-asa-ku, aku bersyukur atas itu. Dan aku rasa itu semua selalu me’rangkul’ku dengan erat dalam kondisi apapun, biarkan aku mengabstrakan apa yang ku maksud ini.
Langit sore begitu sumringah, menaungi langkah juntaiku menuju warnet, untuk menunaikan tugas kuliah perdanaku mengenai Tasammuh[1], pelajaran yang tak asing: Tauhid.
Ya, mengenai tasammuh, ialah toleransi dalam beragama, bagaimana menyikapi ketoleransian dalam masyarakat beragama, apakah bisa dalam bertasammuh sampai bablas membantu membawakan lilin kedalam perayaan misa digereja dengan balutan “silaturohim lintas agama”?? Kebablasan yang ironis dalam tatanan toleransi. Sore itu pula tugasku selesai, dan langsung ku print out setelah ku terbitkan terlebih dahulu di akun blog.
Sepagi itu selepas shubuh, aku bergegas mencuci seluruh pakaian kotorku disambung dengan menggosok satu stel pakaian kuliahku. Aku bergegas menaiki Angkot hijau 03 antara Bogor kota – terminal laladon, masih dilanjut bung, naik angkot lagi menuju arah IPB tapi bukan itu almamater ku. Melainkan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Hidayah.   
Dalam angkot menuju pulang, aku pasang headset dan memutar lagu Ebiet G Ade di ponsel sambil bersandar membukakan sedikit jendela angkot tua itu, terbersit aku terpikir dengan mata kuliah yang diampu oleh Ust. Rahendra. STh.I di jam ke-2 tadi, mengenai “Akhlak”. Dan aku telah menggarisbawahi inti materinya, yaitu quote dari seorang imam besar sang mujtahid imam Assyaafi’i :
“Man kaana fii ikhlashi yaquulu ikhlash, fa ikhlaashuhu yahtaaju ilaal ikhlaash”.
(Barang siapa dalam perbuatan ikhlasnya berkata ikhlash, maka keikhlashannya masih membutuhkan ikhlash).
Jadi, jikalau dalam amal baik kita, seumpama infaq dengan harta penting kita untuk kemaslahatan yang besar dan secara terang-terangan kita berkata “Insya Alloh saya ikhlash” maka itu bukan ikhlash. Semoga kita mendapat hidayah yang salah satunya berupa sifat ikhlash, yang hakiki. Oh iya, tadi ketika pemaparan makalah mengenai tauhid, kulihat dosen berdecak kagum pada kelompokku, dan kawan-kawan terkesan puas.
Ah, sefajar ini aku harus mengejar kereta pertama tepat pukul 04.30, kuniatkan untuk sholat shubuh di mushola stasiun saja, semoga tak lari lebih awal dari shubuh ia, lumayan dari tempat kos-ku harus berjalan -+ 1 KM, sebenarnya sudah berseliweran angkot-angkot yang melintas stasiun, tapi hitung-hitung jogging lah.
Jam 04.25 akupun sudah duduk dalam kereta yang berjalan pelan menuju staasiun Ps. Minggu.
Di stasiun tadi, penumpang tak seramai di stasiun ini. Stasiun Cilebut. Keretapun mulai kencang dan penumpang mulai sedikit berdesakan.
Tepat didepanku berdiri seorang perempuan muda. Yaah, kutaksir kira-kira 21 tahunan lah.
“silahkan duduk aja mba.” Aku sambil berdiri.
“Biarin Mas, gak apa-apa”. Jawab si perempuan sambil tersenyum tipis. Ia senyumi lagi sambil menatap dan si perempuanpun akhirnya duduk. ”Makasih mas” dan ia menjawab dengan anggukan. Semakin menuju stasiun-stasiun berikutnya, penumpang juga semakin padat. Sampai akhirnya, saat kereta memperlambat laju untuk pemberhentiaan di stasiun UI (Universitas Indonesia), perempuan itu bergerak bersiap siap hendak turun.
“Stasiun UI mba ?. Aku bertanya dan si perempuan mengangguk sambil berdiri. Lalu kubantu sedikit dengan memperluas jalan menuju pintu keluar. Perlahan kereta berhenti dan si perempuan melenggang lurus keluar. kududuki bangku yang sempat  diduduki tadi.
“Aw hangat”. Gumamku dalam hati. Pukul enam lewat sedikit ia sampai di stasiun Ps. Minggu. Sambil berjalan santai di sepanjang stasiun, aku menoleh-noleh mencari sesuatu yang pas untuk sarapan. Dan lidahku terpincut oleh “Bubur Kacang Ijo”.
Setelah itu, aku masih harus naik kopaja untuk sampai di tempat kerja. ***
Selama delapan jam aku bekerja. Dan aku belum bisa menerangkan apa pekerjaannya. Di akhir jam kerja, atasanku mengirim sms : “Adi, motor kamu kemana ? ko pulang pergi ‘ngeteng’?”. Lalu kubalas : “Sesekali pak, setidaknya di kereta saya bisa sambil tidur”.
Kemudian berbenah dan pulang.
Turun dari kopaja aku menuju loket, membeli tiket lalu menunggu di peron stasiun. 20 menit kemudian, barulah kereta ekonomi muncul. Padahal bukan kereta itu yang aku tunggu, ah masa bodo dan seketika aku melompat menuju gerbong itu. Karena kereta sesak, tak lama langsung berjalan cepat lagi.
Tak ada tempat lagi, akupun melawan angin di pintu kereta, sambil sedikit berdendang mengimbangi para pengamen dalam gerbong.
“OOO.. ya OO.. ya ooo .. Ya bongkar.. 2x”
********







[1] Tasammuh : Tenggang rasa/Toleransi

0 komentar:

Posting Komentar