Kujejaki kaki
ini di bagian bumi sebelah barat dari kotaku kuningan, aku berhijrah
dengan satu niat yang pada kenyataannya menjadi bercabang dan terbiaskan,
semoga Alloh mengampuniku.
Engkau mungkin
tahu niat itu, niat seorang pemuda tanggung yang diberikan inayahNya dengan
berpikir tajam supaya menuntut ilmu. Ya, ‘menuntut ilmu. Dan memang tidak aku
pungkiri atas nukilan firman tentang pengangkatan derajat seseorang yang
memiliki uluum (ilmu). Dan juga teringat sebuah wejangan :
“ Pendidikan adalah mata rantai
terpenting hidup”.
Alloh memang
maha luas, Dia memudahkanku jalan hanya dalam seumur jagung semenjak ku tapaki
‘lagi’ kota hujan ini. Jika mengingat kilas balik saat kucium punggung tangan
bapak di bibir pintu rumah, dan seperti kebanyakan seorang anak yang akan
merantau dengan mengatakan “doakan
saya” ada suatu kesan yang sulit
ditumpahkan dalam bentuk apapun.
September itu,
2011. Diawalai kuliah perdanaku dengan
meng’update’ status akun ku “back to school” dan dengan semena-mena ingin rasanya
mengumbar ke khalayak publik atau setidaknya kepada orang yang mengeenalku
bahwa aku “kini seorang mahasiswa”. Naif bukan ?
Tidak semua yang ingin aku tulis
tertumpah semua,aku pernah punya teori atas syair :
Al-ilmu Shoydun # Walkitaabatu Qoyduha.
Qhoyyid Shuyuudaka # Bihablil mushbali.
........
Ilmu adalah buruan # sedangkan
tlisan ialah laso/talinya.
Maka ikatlah buruanmu # dengan
ikatan yang kuat.
Yaitu :
Aku ingin selalu menulis # meski
tidak selalu dengan tinta/mangsi.
Bahkan
terkadang pun sulit mengejawantahkan pikiran sendiri begitupun kalbu, ada
kiranya sebuah nafsu tergilaskan oleh beningnya kalbu serta kilaunya jiwa, pun
tak jarang nafsulah yang melumat segalanya.
Adapun hal-hal
yang selalu melecutkan asa-asa-ku, aku bersyukur atas itu. Dan aku rasa itu
semua selalu me’rangkul’ku dengan erat dalam kondisi apapun, biarkan aku
mengabstrakan apa yang ku maksud ini.
Langit sore
begitu sumringah, menaungi langkah juntaiku menuju warnet, untuk menunaikan
tugas kuliah perdanaku mengenai Tasammuh[1], pelajaran
yang tak asing: Tauhid.
Ya, mengenai
tasammuh, ialah toleransi dalam beragama, bagaimana menyikapi ketoleransian
dalam masyarakat beragama, apakah bisa dalam bertasammuh sampai bablas membantu
membawakan lilin kedalam perayaan misa digereja dengan balutan “silaturohim
lintas agama”?? Kebablasan yang ironis dalam tatanan toleransi. Sore itu pula
tugasku selesai, dan langsung ku print out setelah ku terbitkan terlebih dahulu
di akun blog.
Sepagi itu
selepas shubuh, aku bergegas mencuci seluruh pakaian kotorku disambung dengan
menggosok satu stel pakaian kuliahku. Aku bergegas menaiki Angkot hijau 03
antara Bogor kota – terminal laladon, masih dilanjut bung, naik angkot lagi menuju
arah IPB tapi bukan itu almamater ku. Melainkan Sekolah Tinggi Agama Islam
Al-Hidayah.
Dalam angkot
menuju pulang, aku pasang headset dan memutar lagu Ebiet G Ade di ponsel
sambil bersandar membukakan sedikit jendela angkot tua itu, terbersit aku
terpikir dengan mata kuliah yang diampu oleh Ust. Rahendra. STh.I di jam ke-2
tadi, mengenai “Akhlak”. Dan aku telah menggarisbawahi inti materinya, yaitu
quote dari seorang imam besar sang mujtahid imam Assyaafi’i :
“Man kaana fii ikhlashi yaquulu
ikhlash, fa ikhlaashuhu yahtaaju ilaal ikhlaash”.
(Barang siapa dalam perbuatan
ikhlasnya berkata ikhlash, maka keikhlashannya masih membutuhkan ikhlash).
Jadi, jikalau
dalam amal baik kita, seumpama infaq dengan harta penting kita untuk
kemaslahatan yang besar dan secara terang-terangan kita berkata “Insya Alloh
saya ikhlash” maka itu bukan ikhlash. Semoga kita mendapat hidayah yang salah
satunya berupa sifat ikhlash, yang hakiki. Oh iya, tadi ketika pemaparan
makalah mengenai tauhid, kulihat dosen berdecak kagum pada kelompokku, dan
kawan-kawan terkesan puas.
Ah,
sefajar ini aku harus mengejar kereta pertama tepat pukul 04.30, kuniatkan
untuk sholat shubuh di mushola stasiun saja, semoga tak lari lebih awal dari
shubuh ia, lumayan dari tempat kos-ku harus berjalan -+ 1 KM, sebenarnya sudah
berseliweran angkot-angkot yang melintas stasiun, tapi hitung-hitung jogging
lah.
Jam 04.25 akupun sudah duduk dalam
kereta yang berjalan pelan menuju staasiun Ps. Minggu.
Di stasiun tadi, penumpang tak seramai di stasiun
ini. Stasiun Cilebut. Keretapun mulai kencang dan penumpang mulai sedikit
berdesakan.
Tepat didepanku berdiri seorang perempuan muda.
Yaah, kutaksir kira-kira 21 tahunan lah.
“silahkan duduk aja mba.” Aku sambil berdiri.
“Biarin Mas, gak apa-apa”. Jawab si perempuan sambil
tersenyum tipis. Ia senyumi lagi sambil menatap dan si perempuanpun akhirnya
duduk. ”Makasih mas” dan ia menjawab dengan anggukan. Semakin menuju
stasiun-stasiun berikutnya, penumpang juga semakin padat. Sampai akhirnya, saat
kereta memperlambat laju untuk pemberhentiaan di stasiun UI (Universitas
Indonesia), perempuan itu bergerak bersiap siap hendak turun.
“Stasiun UI mba ?. Aku bertanya dan si perempuan mengangguk
sambil berdiri. Lalu kubantu sedikit dengan memperluas jalan menuju pintu
keluar. Perlahan kereta berhenti dan si perempuan melenggang lurus keluar. kududuki
bangku yang sempat diduduki tadi.
“Aw hangat”. Gumamku dalam hati. Pukul enam lewat
sedikit ia sampai di stasiun Ps. Minggu. Sambil berjalan santai di sepanjang
stasiun, aku menoleh-noleh mencari sesuatu yang pas untuk sarapan. Dan lidahku
terpincut oleh “Bubur Kacang Ijo”.
Setelah itu, aku masih harus naik kopaja untuk
sampai di tempat kerja. ***
Selama delapan jam aku bekerja. Dan
aku belum bisa menerangkan apa pekerjaannya. Di akhir jam kerja, atasanku
mengirim sms : “Adi, motor kamu kemana ? ko pulang pergi ‘ngeteng’?”. Lalu
kubalas : “Sesekali pak, setidaknya di kereta saya bisa sambil tidur”.
Kemudian berbenah dan pulang.
Turun dari kopaja aku menuju loket,
membeli tiket lalu menunggu di peron stasiun. 20 menit kemudian, barulah kereta
ekonomi muncul. Padahal bukan kereta itu yang aku tunggu, ah masa bodo dan seketika
aku melompat menuju gerbong itu. Karena kereta sesak, tak lama langsung
berjalan cepat lagi.
Tak ada tempat lagi, akupun melawan
angin di pintu kereta, sambil sedikit berdendang mengimbangi para pengamen
dalam gerbong.
“OOO.. ya OO.. ya ooo .. Ya bongkar.. 2x”
********








0 komentar:
Posting Komentar